Bab I
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Di era globalisasi seperti ini semua aspek
kehidupan dituntut untuk terus maju dan berkembang dengan cepat. Peningkatan
kualitas sumber daya manusia di Indonesia terus diupayakan dan dikembangkan
seiring dengan perkembangan jaman yang semakin global. Peningkatan sumber daya
manusia juga berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Pendidikan merupakan ujung
tombak dalam pengembangan sumber daya manusia harus bisa berperan aktif dalam
meningkatkan kualitas dan juga kuantitas. Upaya pengembangan tersebut harus
sesuai dengan proses pengajaran yang tepat agar anak didik dapat merima
didikan dengan baik.
Dewasa ini, proses belaja mengajar di sekolah
baik SD, SMP, maupun SMA masih menggunakan paradigma lama, yaitu didominasi
oleh peran dan kegiatan guru, dimana guru yang lebih aktif dalam mengajar
daripada peserta didiknya. Peserta didik hanya mendengarkan penjelasan yang
guru sampaikan. Peserta didik cendrung tidak diajak untuk mengetahui dan
memahami peristiwa dan konsep mengenai materi kurrang dikuasai oleh peserta
didik dan peserta didik pun lambat dalam memahami materi pembelajaran.
Dalam kegiatan belajar mengajar sangat
diperlukannya interaksi antara guru dan murid yang memiliki tujuan. Agar tujuan
ini dapat tercapai sesuai dengan target dari guru itu sendiri, maka sangatlah
perlu terjadi interaksi positif yang terjadi antara guru dan murid. Dalam
interaksi ini, sangat perlu bagi guru untuk membuat interaksi antara kedua
belah pihak berjalan dengan menyenangkan dan tidak membosankan. Hal ini selain
agar mencapai target dari guru itu sendiri, siswa juga menjadi menyenangkan
dalam kegiatan belajar mengajar, serta lebih merasa bersahabat dengan guru yang
mengajar.
Sehingga dalam mengajar diperlukan
pendekatan dalam pembelajaran , pendidik harus pandai menggunakan pendekatan
secara arif dan bijaksana. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan
sikap dan perbuatan. Setiap pendidik tidak selalu memiliki suatu pandangan yang
sama dalam hal mendidik anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang
pendidik ambil dalam pengajaran
Pendidik yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya, akan berbeda dengan pendidik yang memandang anak didik sebagai makhluk yang sama dan tidak ada perbedaan
dalam segala hal. Maka adalah penting untuk meluruskan pandangan yang keliru
dalam menilai anak didik. Untuk itu pendidik perlu menyadari dan
memaklumi bahwasanya anak didik itu merupakan individu dengan segala
perbedaannya sehingga diperlukan beberapa pendekatan dalam proses
belajar mengajar.
B.
Rumusan Masalah
Makalah ini berisi
penjelasan mengenai pendekatan dalam pembelajaran. Beberapa permasalahan
akan dibahas antara lain :
1.
Apa pagertian
pendekatan dalam pembelajaran?
2.
Apa peran atau fungsi
pendekatan dalam pembelajaran?
3.
Apa Jenis-jenis
pendekatan dalam pembelajaran?
a.
Pendekatan individual
b.
Pendekatan kelompok
c.
Pendekatan bervariasi
d.
Pendekatan edukatif
e.
Pendekatan keagamaan
f.
Pendekatan kebermaknaan
4.
Apa saja tipe-tipe
pendekatan?
a.
Pendekatan Kontekstual
b.
Pendekatan
Konstruktivisme
c.
Pendekatan Deduktif
d.
Pendekatan Induktif
e.
Pendekatan Konsep
f.
Pendekatan Proses
g.
Pendekatan Sains,
Teknologi, dan Masyarakat
BAB II
Landasan Teori
Peranan Guru Dalam Proses Belajar Mengajar
Pemahaman seorang guru terhadap pengertian
belajar mengajar akan mempengaruhi perencanaan dan pelaksanaan PBM. Sedangkan
pandangan tentang belajar mengajar itu sendiri terus berkembang sejalan dengan tuntutan
perkembangan IPTEK. Karena itu penulis akan mengemukakan beberapa pengertian
tentang istilah belajar dan mengaja rmenurutpara ahli pendidikan.
A.
.Definisi belajar
W.H. Burton, sebagaimana yang dikutip oleh Uzer
Usman dalam bukunya “upaya optimalisasi kegiatan belajar mengajar mendefinisikan
belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya
interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya
sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Ernest R.
Hilgord berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses dimana di timbulkan atau
diubahnya suatu kegiatan karena mereaksi suatu keadaan. Perubahan itu tidak
disebabkan oleh proses pertumbuhan (kematangan) atau keadaan organisme yang
sementara seperti kelelahan atau karena pengaruh obat-obatan. Sedangkan H.C.
Witherington mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam
kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang
berupa kecakapan, sikap, kebiasaan kepribadian atau suatu pengertian.
Senada dengan pernyataan Witherington, Crow dan
Crow mendefinisikan bahwa belajar adalah perubahan individu dalam kebiasaan,sikap
dan pengetahuan.
Sedangkan Nana Sudjana mendefinisikan bahwa
belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri
seseorang yang bisa berupa berubah pengetahuannya, sikappun bertingkah lakunya,
ketrampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya
danaspek-aspek lain yang ada pada diri individu.
Slameto mendifinisikan belajar sebagai suatu
proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri
dalam interaksi degnlingkungannya.
Definisi -definisi belajar yang dikemukakan
oleh para ahli tersebut selalu melibatkan perubahan di dalam individu yang
belajar. Akan tetapi sebagaimana pernyataan Hilgard, bahwa tidak setiap
perubahan dalam arti belajar. Perubahan yang semata-mata karena kematangan atau
pertumbuhandanperubahan-perubahan yang bersifat sementara,misalnya akibat dari
penyakit kelelahan,kelaparan dan lain-lain tidaklah termasuk perubahan dalam
belajar.
B.Definisi mengajar
Mula-mula mengajar diartikan sebagai
penyampaian sejumlah pengetahuan karena pandangan yang seperti ini, maka guru
dipandang sebagai sumber pengetahuan dan siswa dianggap tidak mengerti apa-apa.
Pengertian ini sejalan dengan pandangan Jerome S. Brunner yang berpendapat
bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk
yang sederhana sehingga dapat dipahami olehsiswa.
Pandangan seperti ini kini mulai ditinggalkan.
Orang mulai beralih ke pandangan bahwa mengajar tidaklah sekedar menyampaikan
ilmu pengetahuan, melainkan berusaha membuat suatu situasi lingkungan yang
memungkinkan siswa untuk belajar. Para ahli pendidikan yang sejalan dengan
pendapat tersebut antara lain : Nasution, yang merumuskan bahwa mengajar adalah
suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik – baiknya dan
menghubungkan dengan anak, sehingga terjadilahproses belajar mengajar.
Berikutnya adalah Tyson dan Caroll yang menyatakan bahwa mengajar adalah sebuah
cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara guru dengan siswa yang
sama-sama aktif melakukan kegiatan. Sedangkan Tordif berpendapat bahwa mengajar
adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang (guru) dengan tujuan membantu
dan memudahkan orang lain (siswa) untuk melakukan kegiatan belajar. Adapun
konsep baru tentang mengajar menyatakan bahwa mengajar adalah membina siswa
bagaimana belajar, bagaimana berfikir dan bagaimana menyelidiki.
Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa
aktivitas yang sangat menonjol dalam pengajaran ada pada siswa. Namun, bukan
berarti peran guru tersisihkan, tetapi diubah, kalau guru dianggap sebagai
sumber pengetahuan, sehingga guru selalu aktif dan siswa selalu pasif dalam
kegiatan belajar mengajar. Guru adalah seorang pemandu dan pendorong agar siswa
belajar secara aktif dan kreatif.
C.Definisi Proses Belajar Mengajar
Proses belajar merupakan inti dari proses
pendidikan formal di sekolah. Syamsuddin Makmur menyatakan bahwa proses belajar
mengajar adalah suatu interaksi antara siswa dengan guru dalam rangka mencapai
tujuannya. Pernyataan senada dikemukakan oleh Suryabrata yang mengemukakan
bahwa peaksanaan PBM dapat disimpulkan bahwa pelajaran kepada siswa untuk
mencapai tujuan pengajaran Sedangkan Muhibbin Syah menyatakan : pada umumnya
para ahli sependapat bahwa yang disebut dengan PBM adalah sebuah kegiatan
integral (utuh terpadu) antara siswa sebagai pelajar yang sedang belajar dengan
guru sebagai pengajar yang sedang mengajar.
Adapun definisi PBM pendidikan agama di kemukakan oleh Muhaimin yang berkesimpulan bahwa PBM pendidikan agama merupakan suatu proses yang mengakibatkan beberapa perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku seseorang sesuai dengan taksonomi tujuan pendidikan agama yang meiputiaspek kognitif,afektif dan prilaku motorik.
Adapun definisi PBM pendidikan agama di kemukakan oleh Muhaimin yang berkesimpulan bahwa PBM pendidikan agama merupakan suatu proses yang mengakibatkan beberapa perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku seseorang sesuai dengan taksonomi tujuan pendidikan agama yang meiputiaspek kognitif,afektif dan prilaku motorik.
Menurut penulis, definisi yang dikemukakan oleh
Muhaimin diatas belum lengkap, karena dalam finisnya ia tidak menjelaskan jenis
proses kegiatan apakah yang mengakibatkan perubahan itu terjadi ? Dan dilakukan
oleh siapa sajakah kegiatan itu ? Penulis berkesimpulan bahwa yang dimaksud
dengan PBM pendidikan Agama Islam adalah suatu proses kegiatan yang di dalamnya
terjadi interaksi antara guru dengan siswa dan mungkin juga antara siswa dengan
siswa dalam rangka menyampaikan baha pelajaran pendidikan agama Islam kepada
siswa untuk mencapai tujuan pengajaran pendidikan agama Islam yang meliputi
aspek kognitif, afektif dan psikomotorik
Bab III
Pembahasan
1.
Pengertian Pendekatan
dalam Pembelajaran
Interaksi dalam
pembelajaran adalah bagaimana cara guru dapat meningkatkan motivasi belajar
dari siswa. Hal ini berkaitan dengan strategi apa yang dipakai oleh guru,
bagaimana guru melakukan pendekatan terhadap siswanya. Dalam sebuah
pembelajaran yang baik guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator. Dalam
peranannya sebagai pembimbing, guru berusaha menghidupkan dan memberikan
motivasi agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Guru sebagai fasilitator,
guru berusaha memberikan fasilitas yang baik melalui pendekatan-pendekatan yang
dilakukan.
Proses interaksi
pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar pada siswa ialah bagaimana
cara guru melakukan pendekatan yang sesuai dengan karakter pembelajaran.
Pendekatan (approach)
pembelajaran fisika adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan agar
konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan sisiwa. Pendekatan pembelajaran
dapat diartikan juga sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap
proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu
proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi,
menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Dilihat
dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua
jenis pendekatan, yaitu:
1)
Pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat
pada siswa (student centered approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru melakukan pendekatan dengan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses
pembelajaran, dan
2)
Pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher
centered approach),
dimana pada pendekatan jenis
ini guru menjadi subjek utama dalam proses pembelajaran
2.
Peran tau Fungsi Pendekatan dalam
Pembelajaran
Peran atau Fungsi
pendekatan bagi suatu pembelajaran adalah :
a.
Sebagai pedoman umum
dalam menyusun langkah-langkah metode pembelajaran yang akan digunakan.
b.
Memberikan
garis-garis rujukan untuk perancangan pembelajaran.
c.
Menilai hasil-hasil
pembelajaran yang telah dicapai.
d.
Mendiaknosis
masalah-masalah belajar
yang timbul, dan
e.
Menilai hasil penelitian dan pengembangan yang
telah dilaksanakan.
3.
Jenis-Jenis Pendekatan dalam Pembelajara
A.
Pendekatan Individual
Pendekatan individual merupakan pendekatan langsung dilakukan guru terhadap
anak didiknya untuk memecahkan kasus anak didiknya tersebut. Pendekatan
individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran.
Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode
tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga
guru dalam melaksanakan tugasnya selalu saja melakukan pendekatan individual
terhadap anak didik di kelas. Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah
dipecahkan dengan menggunakan pendekatan individual, walaupun suatu saat
pendekatan kelompok diperlukan.
Pendekatan individual
adalah suatu pendekatan yang melayani perbedaan-perbedaan perorangan siswa
sedemikian rupa, sehingga dengan penerapan pendekatan individual memungkinkan
berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal. Dasar pemikiran dari
pendekatan individual ini ialah adanya pengakuan terhadap perbedaan individual
masing-masing siswa. Sebagai individu anak mempunyai kebutuhan dasar baik fisik
maupun kebutuan anak untuk diakui sebagai pribadi, kebutuhan untuk dihargai dan
menghargai orang lain, kebutuhan rasa aman, dan juga sebgai makhluk sosial,
anak mempunyai kebutuhan untuk menyesuaikan dengan lingkungan baik dengan
temannya ataupun dengan guru dan orang tuanya.
Pembelajaran individual
merupakan salah satu cara guru untuk membantu siswa membelajarkan siswa,
membantu merencanakan kegiatan belajar siswa sesuai dengan kemampuan dan daya
dukung yang dimiliki siswa. Pendekatan individual akan melibatkan hubungan yang
terbuka antara guru dan siswa, yang bertujuan untuk menimbulkan perasaan bebas
dalam belajar sehingga terjadi hubungan yang harmonis antara guru dengan siswa
dalam belajar. Untuk mencapai hal itu, guru harus melakukan hal berikut ini;
a.
mendengarkan secara
simpati dan menanggapi secara positif pikiran anak didik dan membuat hubungan
saling percaya.
b.
membantu anak didik
dengan pendekatn verbal dan non-verbal.
c.
membantu anak didik
tanpa harus mendominasi atau mengambil alih tugas.
d.
menerima perasaan anak
didik sebagaimana adanya atau menerima perbedaannya dengan
penuh perhatian.
e.
menanggani anak didik
dengan memberi rasa aman, penuh pengertian, bantuan, dan mungkin memberi
beberapa alternatif pemecahan.
Adapun Ciri-ciri
pendekatan individual :
a. Guru melakukan pendekatan secara pribadi kepada setiap siswa di kelas dan
memberikan kesempatan kepada anak didik sebagai individu untuk akatif, kreatif,
dan mandiri dalam belajar.
b. Guru harus peka melihat perbedaan sifat-sifat dari semua anak didik secara
individual.
c. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan pembimbing di kelas. Para
peserta didik dapat lebih terkontrol mengenai, bagaimana dan apa yang mereka
pelajari.
d. Guru harus mampu mennyajikan pelajaran yang menarik di depan kelas. Menarik
dalam pengertian mengasyikkan, mudah ditangkap dan dipahami serta tidak
membosankan siswa. Pengajaran individual dilakukan untuk membantu siswa dalam
menuntaskan belajar mereka.
Oleh karena itu,
pendekatan individual dapat mengefektifkan proses belajar mengajar, interaksi
guru dan siswa berjalan dengan baik, dan terjadinya hubungan pribadi yang
menyenangkan antara siswa dan guru. Secara tidak langsung hal yang disebut
diatas merupakan keuntungan dari pengajaran dengan pendekatan individual.
Keuntungan dari pengajaran pendekatan individual yaitu:
a.
memungkin siswa yang
lama dapat maju menurut kemampuannya masing-masing secara penuh dan tepat,
b.
mencegah terjadinya ilusi dalam kemajuan tetapi bersifat nyata melalui
diskusi kelompok,
c.
mengarahkan perhatian
siswa terhadap hasil belajar perorangan,
d.
memusatkan pengajaran
terhadap mata ajaran dan pertumbuhan yang bersifat mendidik, bukan kepada
tuntutan-tuntutan guru.
e.
memberi peluang siswa
untuk maju secara optimal dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
f.
latihan-latihan tidak
diperlukan bagi anak yang cerdas, karena dapat menimbulkan kebiasaan dan merasa
puas dengan hasil belajar yang ada.
g.
menumbuhkan hubungan
pribadi yang menyenangkan siswa dan guru.
h.
memberi kesempatan bagi
para siswa yang pandai untuk melatih inisiatif berbuat yang lebih baik,
i.
mengurangi hambatan dan
mencegah eliminasi terhadap para siwa yang tergolong lamban.
Sedangkan kelemahan
pembelajaran pendekatan individual sebagai berikut dapat dilihat secara umum
dan khusus. Kelemahan secara umum:
a.
proses pembelajaran
relative memakan banyak waktu sesuai dengan jumlah bahan yang dihadapi dan
jumlah peserta didik.
b.
Motivasi siswa mungkin
sulit dipertahankan karena perbedaan-perbedaan individual yang dimiliki oleh
peserta didik sehingga dapat membuat beberapa siswa rendah diri/minder dalam
pembelajaran.
c.
Adanya penggunaan
pasangan guru dan siswa dalam manajemen kelas regular secara perorangan,
sehingga terjadi kemungkinan sebagaian peserta didik tidak dapat dikelola
dengan baik.
d.
Guru-guru yang sudah terbiasa
dengan cara-cara lama akan mengalami hambatan untuk menyelenggarakan pendekatan
ini karena menuntut kesabaran dan penguasaan materi secara lebih luas dan
menyeluruh.
B.
Pendekatan Kelompok
Dalam kegiatan belajar
mengajar terkadang ada juga guru yang menggunakan pendekatan lain, yakni
pendekatan kelompok. Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan perlu
digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Hal
ini disadari bahwa anak didik adalah sejenis makhluk homo secius, yakni makhluk
yang berkecendrungan untuk hidup bersama.
Dengan pendekatan
kelompok, diharapkan dapat ditumbuh kembangkan rasa sosial yang tinggi pada
diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada
dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial
dikelas. Tentu saja sikap ini pada hal-hal yang baik saja. Mereka sadar bahwa
hidup ini saling ketergantungan, seperti ekosistem dalam mata rantai
kehidupansemua makhluk hidup di dunia. Tidak ada makhluk hidup yang terus
menerus berdiri sendiri tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak
langsung, disadari atau tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam
kehidupan makhluk tertentu.
Anak didik dibiasakan
hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok, akan menyadari bahwa dirinya ada
kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu
mereka yang memponyai kekurangan. Sebaliknya, mereka yang mempunyai kekurangan
dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan. Tanpa ada
rasa minder. Persaingan yang positif pun terjadi dikelas dalam rangka untuk
mencapai prestasi belajr yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni anak didik
yang aktif, kreatif, dan mandiri.
Ketika guru akan
menggunakan pendekatan kelompok, maka guru harus sudah mempertimbangkan bahwa
hal itu tidak bertentangan dengan tujuan, fasilitas belajar pendukung, metode
yang akan dipakai sudah dikuasai, dan bahan yang akn diberikan kepada anak
didik memang cocok didekati dengan pendekatan kelompok. Karena itu, pendekatan
kelompok tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi harus mempertimbangkan
hah-hal yang ikut mempengaruhi penggunaannya.
Dalam pengolahan kelas,
terutama yang berhubungan dengan penempatan anak didik, pendekatan kelompok
sangat diperlukan . Perbedaan individual anak didik, pada aspek biologis,
intelektual, dan psikologis dijadikan sebagai pijakan dalam melakukan
pendekatan kelompok.
C.
Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan
kepada permasalahan anak didik yang bermasalah, maka guru akan berhadapan
dengan permasalahan yang bervariasi. Setiap masalah yang dihadapi oleh anak
didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan.
Dalam belajar, anak
didik mempunyai motivasi yang berbeda. Pada satu sisi anak didik mempunyai
motivasi yang rendah, tetapi pada saat lain anak didik mempunyai motivasi yang
tinggi. Anak didik yang satu bergairah belajar, anak didik yang lain kurang
bergairah belajar. Sementara sebagian besar anak belajar, satu atau dua orang
anak tidak ikut belajar.
Mereka duduk dan berbicara (berbincang-bincang) satu sama lain tentang hal-hal
lain yang terlepas dari masalah pelajaran.
Dalam mengajar, guru
yang hanya menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas
yang kondusif dalam waktu yang relatif lama. Bila terjadi perubahan suasana
kelas, sulit menormalkannya kembali. Ini sebagai ada tandanya gangguan dalam
proses belajar mengajar.
Akibatnya, jalannya
pelajaran menjadi kurang efektif, efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan
pun jadi terganggu. Disebabkan anak didik kurang mampu berkonsentrasi.metode
yang hanya satu-satunya dipergunakan tidak dapat diperankan, karena memang
gangguan itu terpangkal dari kelemahan metode tersebut. Karena itu, dalam
mengajar kebanyakan guru menggunakan
beberapa metode dan jarang sekali menggunakan satu metode.
Permasalahan yang
dihadapi oleh setiap anak didik bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pun
akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Pendekatan bervariasi
bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik
dalam belajar bermacam-macam. Kasus yang biasanya muncul dalam penagajaran
dengan berbagai motif, sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk
setiap kasus. Maka kiranya pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang dapat
guru gunakan untuk kepentingan pengajaran.
D. Pendekatan Edukati
Apapun yang guru
lakukan dalam pendidikan dan pengajaran dengan tujuan untuk mendidik, bukan
karena motif-motif lain, seperti karena dendam, karena gengsi, karena ingin
ditakuti dan sebagainya.
Anak didik yang telah
melakukan kesalahan, yakni membuat keributan didalam kelas ketika guru sedang
memberikanpelajaran, misalnya, tidak tepat diberi sanksi hukum dengan cara memukul
badannya sehingga luka atau cidera. Hal ini adalah sanksi hukum yang tidak
bernilai pendidikan. Guru telah melakukan sanksi hukum yang salah. Guru
telah menggunakan teori power, yakni teori kekuasaan untuk menundukkan orang
lain. Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan
kekuasaan. Karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan
kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan
pendekatan edukatif. Setiap tindakan dan perbuatan yang dilakukan guru harus
bernilai pendidikan dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai
norma hukum, norma susila, norma sosial dan norma agama.
Cukup banyak sikap dan
perbuatan yang harus guru lakukan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada
anak didik. Salah satu contohnya, misalnya, ketika lonceng tanda masuk kelas telah
berbunyi, anak-anak jangan dibiarkan masuk dulu, tetapi suruhlah mereka
berbaris di depan pintu masuk dan perintahkanlah ketua kelas untuk mengatur
barisan. Semua anak perempuan berbaris dalam kelompok sejenisnya. Demikian juga
semua anak laki-laki, berbaris dalam kelompok sejenisnya. Jadi, berisan
dibentuk menjadi dua dengan pandangan terarah kepintu masuk. Di sisi pintu
masuk guru berdiri sambil mengontrol bagaimana anak-anak berbaris di depan
pintu masuk kelas. Semua anak di persilahkan masuk oleh ketua kelas. Mereka pun satu persatu masuk
kelas, mereka satu persatu menyalami guru. Semua anak-anak masuk dan pelajaran pun
dimulai.
Contoh diatas menggambarkan pendekatan edukatif yang
telah di lakukan oleh guru dengan menyuruh anak didik berbaris di depan pintu masuk
kelas. Guru telah meletakan tujuan untuk membina watak anak didik
dengan pendidikan akhlak yang mulia.
Kasus yang terjadi di
sekolah biasanya tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam jenis dan tigkat
kesukarannya. Hal ini menghendaki pendekatan yang tepat. Berbagai kasus yang
terjadi selain dapat didekati dengan pendekatan individual, pendekatan kelompok,
dan juga pendekatan edukatif. Namun yang penting untuk di ingat adalah bahwa
pendekatan individual harus bedampingan dengan pendekatan edukatif. Pendekatan
kelompok harus berdampingan dengan pendekatan edukatif, dan pendekatan
bervariasi harus berdampingan dengan pendekatan edukatif.
Dengan demikian, semua
pendekatan yang dilakukan oleh guru harus bernilai edukatif, dengan tujuan
mendidik.
E.
Pendekatan Keagamaan
Pendidikan dan
pelajaran disekolah tidak hanya memberikan satu atau dua macam mata pelajaran,
tetapi terdiri dari banyak mata pelajaran. Dalam prateknya tidak
hanya digunakan satu, tetapi bisa juga penggabungan dua atau lebih pendekatan.
Dengan penerapan
prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi, guru dapat
menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran. Khususnya untuk mata
pelajaran umum sangat penting dengan pendekatan keagamaan. Hal ini dimaksudkan
agar nilai budaya ini tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Tentu
saja guru harus menguasai ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan mata pelajaran
yang dipegang. Mata pelajaran biologi, misalnya, bukan terpisah dari masalah
agama,tetapi ada hubunganya. Persoalan nya sekarng terletak mau atau tidaknya
guru mata pelajaran tersebut.
Pendekatan agama dapat
membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa agama didalam diri siswa, agar
nilai-nilai agamanya tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diyakini,
dipahami,dihayati dan diamalkan secara hayat siswa dikandung badan.
F.
Pendekatan Kebermaknaan
Bahasa adalah alat
untuk menyampaikan dan memahami gagasan pikiran, pendapat, dan perasaan, secara
lisan atau tulisan. Bahasa
merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui struktur (tata
bahasa dan kosa kata). Dengan demikian struktur berperan sebagai alat
pengungkapan makna (gagasan, pikiran, pendapat dan perasaan). Jadi pendekatan
kebermaknaan adalah pendekatan yang memasukkan unsur-unsur terpenting yaitu
pada bahasa dan makna. Misalnya pendekatan dalam rangka penguasaan bahasa
Inggris.
Bahasa Inggris adalah bahasa asing yang
pertama di indonesia yang dianggap penting untuk tujuan penyerapan dan
pengembangan ilmu pengetahuan.
Kegagalan
penguasaan bahasa inggris oleh siswa salah satu sebabnya kurang tepatnya
pendekatan yang digunakan oleh guru selain faktor lain seperti faktor sejarah,
fasilitas, dan lingkungan serta kompetensi guru itu sendiri. Karenanya perlu
dipecahkan. Salah satu alternatif kearah pemecahan masalah tersebut diajukanlah
pendekatan baru, yaitu pendekatan kebermaknaan. Ada beberapa konsep
penting yang menyadari pendekatan ini sebagai berikut :
a. .Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui
struktur ( tata bahasa dan kosa kata).
b. Makna ditentukan oleh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang
merupakan konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang
natural.
c. Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda, baik secara lisan
maupun tertulis. Suatu kalimat dapat mempunyai makna yang berbeda tergantung
pada situasi saat kalimat digunakan.
d. Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa tersebut,
sebagai bahasa sasaran, baik secara lisan maupun tertulis. Belajar
berkomunikasi ini perlu didukung oleh pembelajaran unsur-unsur bahasa sasaran.
e. Motivasi belajar siswa merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan
belajarnya. Kadar motivasi ini banyak ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan
peljaran dan kegiatan pembelajaran siswa yang bersangkutan.
f. Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih penting bermakna bagi siswa jika berhubungan dengan
kebutuhan siswa yang berkaitan dengan pengalaman, minat, tata nilai, dan masa
depannya.
g. Dalam proses belajar mengajar siswa merupakan subjek utama, tidak hanya
sebagai objek belaka. Karena itu, ciri-ciri dan kebutuhan mereka harus
dipertimbangkan dalam segala keputusan yang berkaitan dengan pengajaran.
h. Dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai fasilitator yang
membantu siswa mengembangkan ketrampilan berbahasanya.
4. Tipe-tipe pendekatan
A.
Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual
sudah lama dikembangkan oleh John Dewey pada tahun 1916, yaitu sebagai filosofi
belajar yang menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman siswa. Kontekstual (Contextual Teaching and
Learning) dikembangkan oleh The Washington State Consortium for
Contextual Teaching and Learning, yang bergerak dalam dunia pendidikan di
Amerika Serikat. Salah satu kegiatannya adalah melatih dan memberi kesempatan
kepada guru-guru dari enam propinsi di Indonesia untuk belajar pendekatan
kontekstual di Amerika Serikat melalui Direktorat PLP Depdiknas.
Pendekatan kontekstual
lahir karena kesadaran bahwa kelas-kelas di Indonesia tidak produktif.
Sehari-hari kelas-kelas di sekolah diisi dengan “pemaksaan” terhadap siswa
untuk belajar dengan cara menerima dan menghafal. Harus segera ada pilihan
strategi pembelajaran yang lebih berpihak dan memberdayakan siswa.
Adapun yang melandasi
pengembangan pendekatan kontekstual adalah konstruktivisme, yaitu filosofi
belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa
harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Bahwa pengetahuan
tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi
mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Konstruktivisme berakar pada
filsafat pragmatisme yang digagas oleh John Dewey pada awal abad 20 yang lalu.
Ada kecenderungan
dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika
lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami
apa yang dipelajarinya, bukan sekedar mengetahuinya. Sebab, pembelajaran yang
berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi
mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan
dalam kehidupan jangka panjang. Inilah yang terjadi pada kelas-kelas di sekolah Indonesia dewasa ini. Hal ini
terjadi karena masih tertanam pemikiran bahwa pengetahuan dipandang sebagai
perangkat fakta-fakta yang harus dihapal, kelas berfokus pada guru sebagai
sumber utama pengetahuan, akibatnya ceramah merupakan pilihan utama strategi
mengajar. Karena itu, diperlukan :
1.
Sebuah pendekatan
belajar yang lebih memberdayakan siswa.
2.
Kesadaran bahwa
pengetahuan bukanlah seperangkat fakta dan konsep yang siap diterima, melainkan
sesuatu yang harus dikonstruksi sendiri oleh siswa.
3.
Kesadaran pada diri
siswa tentang pengertian makna belajar bagi mereka, apa manfaatnya, bagaimana
mencapainya, dan apa yang mereka pelajari adalah berguna bagi hidupnya.
4.
Posisi guru yang lebih
berperan pada urusan strategi bagaimana belajar daripada pemberi informasi.
Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and
Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam konteks
ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka
dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang
mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka
memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat
untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk menggapinya.
Pendekatan
konstektual merupakan pendekatan yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan
kontekstual sendiri dilakukan dengan melibatkan komponen-komponen pembelajaran
yang efektif yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar,
pemodelan, refleksi, penilaian sebenarnya.
Dalam
pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang
penting, yaitu :
1.
Mengaitkan adalah
strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan
strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal
siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan
informasi baru.
2.
Mengalami merupakan
inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru
dengan pengalaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat
ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan
bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3.
Menerapkan. Siswa
menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru
dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
4.
Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu
kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering
dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan.Pengalaman
kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten
dengan dunia nyata.
5.
Mentransfer. Peran guru
membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan
hapalan
B.
Pendekatan
Konstruktivisme
Pendekatan
konstruktivisme merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan
pada tingkat kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat
diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan.
Pada dasarnya
pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam peningkatan dan pengembangan
pengetahuan yang dimiliki oleh siswa berupa keterampilan dasar yang dapat
diperlukan dalam pengembangan diri siswa baik dalam lingkungan sekolah maupun
dalam lingkungan masyarakat.
Dalam pendekatan
konstruktivisme ini peran guru hanya sebagai pembimbing dan pengajar dalam
kegiatan pembelajaran. Olek karena itu , guru lebih mengutamakan keaktifan
siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru
yang sesuai dengan materi yang disajikan untuk meningkatkan kemampuan siswa secara pribadi.
Jadi pendekatan
konstruktivisme merupakan pembelajaran yang lebih mengutamakan pengalaman
langsung dan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Secara umum yang
disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam
memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial. Tidak ada satupun teori belajar tentang
konstruktivisme, namun terdapat beberapa pendekatan konstruktivis, misalnya
pendekatan yang khusus dalam pendidikan matematik dan sains. Beberapa pemikir
konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam
pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial); sedangkan yang lain seperti
Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).
Para psikolog
konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan individu, kepercayaan, konsep
diri atau identitas adalah mereka yang biasa disebut konstruktivis individual.
Riset mereka berusaha mengungkap sisi dalam psikologi manusia dan bagaimana
seseorang membentuk struktur emosional atau kognitif dan strateginya
Berbeda dengan Piaget,
Vygotsky percaya bahwa pengetahuan dibentuk secara sosial, yaitu terhadap apa
yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama.
Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam
konteks budaya yang berbeda. Interaksi sosial, alat-alat budaya, dan
aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar individual.
Ciri-ciri pendekatan
konstruktivisme
1. Dengan adanya pendekatan konstruktivisme, pengembangan pengetahuan bagi
peserta didik dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan
penelitian atau pengamatan langsung sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide
baru sesuai dengan pengalaman dengan menemukan fakta yang sesuai dengan kajian
teori.
2. Antara pengetahuan-pengetahuan yang ada harus ada keterkaitan dengan
pengalaman yang ada dalam diri siswa.
3. Setiap siswa mempunyai peranan penting dalam menentukan apa yang mereka
pelajari. Peran guru hanya
sebagai pembimbing dengan menyediakan materi atau konsep apa yang akan
dipelajari serta memberikan peluang kepada siswa untuk menganalisis sesuai
dengan materi yang dipelajari.
C.
Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif (deductive
approach) adalah pendekatan yang menggunakan logika untuk menarik satu atau
lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang
diberikan. Dalam sistem deduktif yang kompleks, peneliti dapat menarik lebih
dari satu kesimpulan. Metode deduktif sering digambarkan sebagai pengambilan
kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus.
Pendekatan deduktif
merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan umum ke keadaan khusus, sebagai pendekatan
pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum dan diikuti
dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum ke dalam keadaan khusus.
D.
Pendekatan Induktif
Berbeda
dengan pendekatan deduktif
yang menyimpulkan permasalahan dari hal-hal yang bersifat umum, maka pendekatan induktif (inductif
approach) menyimpulkan permasalahan dari hal-hal yang
bersifat khusus.. Metode induktif sering
digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus.
Pendekatan induktif
menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan
pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan
pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. Pendekatan induktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan
khusus menuju keadaan umum.
E.
Pendekatan Konsep
Pendekatan konsep
adalah pendekatan yang mengarahkan peserta didik meguasai konsep secara benar
dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi).. Konsep
merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman.
Pendekatan Konsep
merupakan suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep
tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu
diperoleh.
Ciri-ciri suatu konsep
adalah:
1.
Konsep memiliki
gejala-gejala tertentu
2.
Konsep diperoleh
melalui pengamatan dan pengalaman langsun.
3.
Konsep berbeda dalam
isi dan luasnya
4.
Konsep yang diperoleh berguna untuk menafsirkan pengalaman-pengalaman
5.
Konsep yang benar membentuk pengertian
6.
Setiap konsep berbeda
dengan melihat ciri-ciri tertentu
Kondisi-kondisi yang
dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan konsep
adalah:
1. Menanti kesiapan belajar, kematangan berpikir sesuai denaan unsur lingkungan.
2. Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang benar yang mudah
dimengerti.
3. Memperkenalkan konsep yang spesifik dari pengalaman yang spesifik pula
sampai konsep yang komplek.
4. Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai ke yang abstrak.
Langkah-langkah
mengajar dengan pendekatan konsep melalui 3 tahap yaitu,
1.
Tahap enaktik
1)
Pengenalan benda
konkret.
2)
Menghubungkan dengan
pengalaman lama atau berupa pengalaman baru.
3)
Pengamatan, penafsiran
tentang benda baru.
2.
Tahap simbolik
Tahap simbolik
siperkenalkan dengan: Simbol, lambang, kode, seperti angka, huruf. kode,
seperti (?=,/) dll. Membandingkan antara contoh dan non-contoh untuk menangkap
apakah siswa cukup mengerti akan ciri-cirinya. Memberi nama, dan istilah serta
defenisi.
3.
Tahap ikonik
Tahap ini adalah tahap
penguasaan konsep secara abstrak, seperti: Menyebut nama, istilah, definisi, apakah siswa sudah
mampu mengatakannya.
F.
Pendekatan Proses
Pendekatan proses
merupakan pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu
keterampilan proses.
Pendekatan proses
adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan hasil. Pada pendekatan
ini peserta didik diharapkan benar-benar menguasai proses. Pendekatan ini
penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan
melatih psikomotor peserta didik. Dalam pendekatan proses peserta didik juga
harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan dan bahkan melakukan percobaan.
Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara
kerja, ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebagainya.
G.
Pendekatan Sains,
Teknologi, dan Masyarakat
Pendekatan Science,
Technology and Society (STS) atau pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat
(STM) merupakan gabungan antara pendekatan konsep, keterampilan proses, Inkuiri
dan diskoveri serta pendekatan lingkungan.
Istilah Sains Teknologi
Masyarakat (STM) dalam bahasa Inggris disebut Sains Technology Society (STS),
Science Technology Society and Environtment (STSE) atau Sains Teknologi
Lingkungan dan Masyarakat. Meskipun istilahnya banyak namun sebenarnya intinya
sama yaitu Environtment, yang dalam berbagai kegiatan perlu ditonjolkan.
Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan pendekatan terpadu antara sains,
teknologi, dan isu yang ada di masyarakat. Adapun tujuan dari pendekatan STM
ini adalah menghasilkan peserta
didik yang cukup memiliki bekal pengetahuan, sehingga mampu mengambil keputusan
penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat serta mengambil tindakan
sehubungan dengan keputusan yang telah diambilnya.
Filosofi yang mendasari
pendekatan STM adalah pendekatan konstruktivisme, yaitu peserta didik menyusun
sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah
mereka ketahui.
Bab IV
Penutup
A.
Kesimpulan
Pendekatan pembelajaran
dapat berarti titik
tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran atau merupakan gambaran
pola umum perbuatan guru dan peserta didik di dalam perwujudan kegiatan
pembelajaran, yang berusaha meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan
psikomotorik siswa dalam pengolahan pesan sehingga tercapai sasaran belajar.
Jenis-jenis pendekatan
dalam pembelajaran
a.
Pendekatan individual
b.
Pendekatan kelompok
c.
Pendekatan bervariasi
d.
Pendekatan edukatif
e.
Pendekatan keagamaan
f.
Pendekatan kebermaknaan
Tipe-tipe pendekatan
pembelajaran:
a.
Pendekatan Pembelajaran
Kontekstual
b.
Pendekatan Pembelajaran
Konstruktivisme
c.
Pendekatan Pembelajaran
Deduktif
d.
Pendekatan Pembelajaran
Induktif
e.
Pendekatan Pembelajaran
Proses
f.
Pendekatan Pembelajaran
Konsep
g.
Pendekatan Pembelajaran
Sains, Teknologi dan Masyarakat
B.
Saran
Dari bermacam-macamnya pendekatan dalam
proses belajar mengajar, diharapkan pendidik mampu memaksimalkan dan mempraktekkan
pendekatan itu untuk mengatasi semua permasalahan yang muncul dalam
upayanya membentuk kepribadian anak didik sehingga nantinya memperoleh hasil
yang memuaskan dan mampu menciptakan generasi bangsa yang berkualitas.
Daftar Pustaka
Anonim,
2012 http://citratyas.wordpress.com/2012/01/08/pendekatan-metode-strategi-dan-teknik-pembelajaran-pendidikan/A
Dr. Muhibbin syah, M.Ed. 2010. Psikolologi
Pendidikan Dengan Pendekatan Baru
Hamalik, oemar 1990. Psikologi belajar dan
mengajar. Bandung. Sinar Baru Algensindo
Harsono. 1988. Choaching dan aspek-aspek psikologis dalam choaching jakarta. C.V. Tambak Kusuma
Harsono. 1988. Choaching dan aspek-aspek psikologis dalam choaching jakarta. C.V. Tambak Kusuma
http://bk-stkip-pontianak.webs.com/apps/blog/show/678257-ciri-ciri-guru-konstruktivis
Syaiful Bahri Djamarah. 2005. Guru dan
Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (suatu pendekatan teoritis
psikologis). Jakarta; Rineka Cipta.
Syaiful
Sagala. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung; Alfabeta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar